Perlindungan Ekstra Investasi Asing

March 2, 2017 Leave a comment

Indonesia sebagai negara yang aktif mengikuti perjanjian investasi internasional, saat ini memiliki 64 Bilateral Investment Treaty (BIT) dengan negara mitra. 22 perjanjian di antaranya masih berlaku, sisanya sudah diterminasi atau belum diratifikasi.

Selain BIT, secara bilateral Indonesia memiliki Economic Partnership Agreement dengan Jepang, dan merupakan pihak di dalam ASEAN Agreements. Belum cukup disitu, saat ini Indonesia sedang melakukan perundingan perjanjian dengan banyak negara. Sebut saja Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), Indonesia Korea-CEPA, Indonesia-Australia CEPA, Indonesia-Uni Eropa CEPA, Indonesia- EFTA CEPA, dan tentu tidak lupa, rencana Indonesia untuk ikut bergabung dalam Trans Pacific Partnership Agreement (TPPA).

Tidak ada yang salah dengan sikap aktif tersebut, negara lain pun melakukan hal yang serupa, karena perjanjian ini diyakini dapat memberikan daya tarik signifikan bagi investor asing untuk datang berinvestasi. Meski demikian tidak sedikit juga studi yang menyimpulkan bahwa perjanjian investasi internasional bukan menjadi pertimbangan atau bukan pertimbangan utama bagi investor untuk berinvestasi di negara tujuan.

Permasalahan dari keanekaragaman perjanjian ini terletak pada tumpang tindihnya perlindungan dari beberapa perjanjian. Sebagai contoh, investor asal Australia mendapatkan jaminan perlindungan dari BIT Indonesia-Australia dan ASEAN-Australia-New Zealand FTA, selanjutnya jika RCEP dan Indonesia Australia-CEPA nanti disepakati, plus jika Indonesia jadi bergabung dengan TPPA, maka investor Australia dilindungi oleh 5 perjanjian internasional, diluar jaminan perlindungan yang sudah diberikan melalui undang-undang penanaman modal. Dengan banyaknya instrumen perjanjian, investor asal Australia dapat memilih perjanjian mana yang paling menguntungkan bagi mereka baik dari sisi substansi maupun prosedur penyelesaian sengketa. Hal ini tentu meningkatkan resiko bagi Pemerintah, khususnya risiko dianggap melanggar perjanjian dan digugat di arbitrase internasional.

Selain itu, pemanfaatan perjanjian internasional dalam praktek tidak hanya dinikmati oleh investor langsung, namun sering juga dimanfaatkan oleh investor dari negara lain yang tidak memiliki perjanjian dengan negara tuan rumah dengan melakukan praktik treaty shopping. Modusnya adalah mendirikan entitas usaha tanpa aktivitas bisnis atau aset signifikan (shell company) di negara yang memiliki perjanjian dengan negara tuan rumah dan kemudian mengambil manfaat dari perjanjian tersebut.

Sebagai catatan, terdapat beberapa BIT Indonesia dengan negara mitra yang tidak memiliki realisasi investasi sama sekali atau ada namun sangat kecil. Hal ini menjadi pertanyaan mengenai urgensi atau rasionalitas pemilihan negara mitra dalam pembuatan BIT karena faktanya tidak ada investor yang bisa dilindungi melalui BIT, dan tentunya BIT tersebut membuka jalan bagi investor negara lain untuk melakukan treaty shopping.

Untuk mengatasi keruwetan aneka perjanjian tersebut, Pemerintah dapat melakukan beberapa cara, pertama, Pemerintah Indonesia dapat mengusulkan untuk terminasi perjanjian yang tumpang tindih. Terminasi dapat dilakukan hingga hanya cukup satu perjanjian saja, atau paling tidak mengurangi sebagian dari perjanjian yang ada. Pada perjanjian yang bersifat tumpang tindih, biasanya perjanjian yang paling akhir dibuat bersifat lebih liberal, komprehensif, dan dengan komitmen yang lebih tinggi. Dengan demikian maka perjanjian yang disepakati lebih atau paling awal seharusnya tidak diperlukan lagi keberadaannya karena sudah digantikan dengan yang levelnya lebih tinggi.

Kedua, Pemerintah harus lebih selektif dalam memilih mitra perjanjian investasi internasional. Jangan lagi ada BIT dengan negara mitra yang tidak memiliki potensi investasi. Selanjutnya, perlu diidentifikasi juga negara mitra yang potensial bagi Indonesia untuk berinvestasi (outward investment), sehingga tidak melulu Indonesia memiliki mindset mengundang investasi asing.

Ketiga, jika pun Indonesia tidak dapat menghindari tumpang tindih dan banyaknya perjanjian, maka Indonesia harus berjuang maksimal memperkuat substansi pasal demi pasal dalam perjanjian agar dapat lebih menjaga kepentingan nasional.

*Dimuat di Koran Kontan 3 November 2016

http://m.kontan.co.id/news_analisis/perlindungan-ekstra-investasi-asing

Investasi Indonesia di Luar Negeri

March 2, 2017 Leave a comment

Pasal 28 Undang-Undang No. 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal memberi amanat kepada Pemerintah untuk melakukan koordinasi terhadap investor Indonesia yang menjalankan kegiatan investasinya di luar wilayah Indonesia.

Sayangnya sejak undang-undang tersebut lahir, Pemerintah belum memiliki sistem pendataan investor Indonesia di luar negeri. Hal ini menyebabkan koordinasi tidak dapat dilakukan secara efektif karena objeknya belum jelas keberadaannya. Padahal sebenarnya kita mengetahui melalui pemberitaan di media massa bahwa telah banyak pengusaha Indonesia yang melakukan ekspansi ke luar negeri. Negara-negara di Asia dan Afrika merupakan sebagian wilayah yang kita ketahui sebagai tujuan investor Indonesia menanamkan modalnya.

Tidak adanya data valid investasi Indonesia di luar negeri memberikan beberapa kerugian, pertama, dalam perundingan perjanjian investasi internasional, akan sulit bagi Indonesia dalam menentukan bargaining position terhadap negara mitra, karena tidak jelas posisi Indonesia apakah murni sebagai negara pengekspor atau pengimpor modal, atau pengeskpor sekaligus pengimpor modal.

Posisi tawar dalam perundingan merupakan hal penting, karena posisi tersebut akan tertuang ke dalam pasal-pasal perjanjian. Negara pengeskpor modal biasanya menuntut pengaturan yang liberal dan dengan tingkat ambisi yang tinggi, sedangkan negara pengimpor modal menghendaki pengaturan yang sebisa mungkin berimbang antara liberalisasi dan fleksibilitas pemerintah dalam mengatur atau mengeluarkan kebijakan. Posisi ini idealnya sudah harus jelas diketahui sebelum perundingan dimulai.

Kedua, Pemerintah tidak dapat secara maksimal memberikan bantuan atau fasilitasi kepada investor Indonesia di luar negeri. Fasilitasi bisa dilakukan dalam berbagai bentuk, misalnya dengan memberikan informasi kepada investor Indonesia mengenai masa berlaku, fitur, dan manfaat perjanjian investasi internasional atau perjanjian penghindaran pajak berganda antara Indonesia dan negara tujuan investasi. Selain itu, Pemerintah juga dapat menyuarakan kepentingan investor Indonesia dalam setiap pertemuan-pertemuan bilateral dengan negara tersebut.

Sebagai perbandingan, yang terjadi di Indonesia adalah perwakilan pemerintah dari beberapa negara dengan gigih mendatangi dan melobi instansi-instansi Pemerintah dari pintu ke pintu untuk memperjuangkan kepentingan investor negaranya. Aksi ini bisa dilakukan karena mereka tahu dengan detail investor-investor asal negaranya yang sudah atau akan berinvestasi di Indonesia.

Perlu juga diketahui, sebagaimana investor asing yang banyak masuk ke Indonesia melalui negara ketiga, sebagian investor Indonesia juga masuk ke negara tujuan melalui negara ketiga. Kondisi seperti ini akan semakin mempersulit Pemerintah dalam mendata investor Indonesia di luar negeri.

Padahal jika Pemerintah memiliki data dimana Indonesia ternyata adalah negara pengekspor modal di suatu negara, maka Indonesia dapat menginisiasi pembuatan perjanjian investasi internasional dengan tujuan melindungi investor Indonesia di negara tersebut. Sehingga tidak selalu Indonesia yang bersikap pasif menerima dan mempertimbangkan usulan perjanjian investasi internasional dari negara mitra.

Pemerintah perlu segera menciptakan sistem pendataan investor Indonesia di luar negeri. Caranya bisa dengan menciptakan sistem pelaporan secara berkala ke Pemerintah, atau dengan cara mendata secara berkala investor Indonesia di luar negeri dengan melibatkan secara aktif KBRI/KJRI, atau juga dengan melakukan kerjasama pertukaran data investasi melalui perjanjian atau nota kesepahaman dengan negara mitra.

Mengikuti semangat  “deklarasi” dalam program pengampunan pajak, Pemerintah juga dapat menggunakan semangat yang sama dengan menciptakan skema benefit atau insentif khusus dalam rangka menarik minat investor Indonesia mendeklarasikan investasinya di luar negeri.

Dengan adanya koordinasi yang baik antara Pemerintah dan investor Indonesia di luar negeri, diharapkan investor Indonesia dapat memanfaatkan dan merasakan kehadiran Pemerintah dimanapun mereka berada, serta tidak menghubungi Pemerintah hanya ketika ada masalah. Bagi Pemerintah, adanya koordinasi ini merupakan pelaksanaan tugas dan fungsi undang-undang, sebelum undang-undangnya terlanjur diganti suatu hari nanti.

*Dimuat di koran Investor Daily 7 Januari 2017

http://investor.id/investor/investor/408277-investasi-indonesia-di-luar-negeri.html

http://www.beritasatu.com/investor/408277-investasi-indonesia-di-luar-negeri.html

Realisasi Investasi Domestik dan Asing

March 2, 2017 Leave a comment

Untuk mengetahui realisasi investasi dalam negeri dan asing berdasarkan angka, peringkat, sektor, sebaran wilayah, serapan tenaga kerja, di Indonesia, klik dokumen di bawah ini:

bahan_paparan_-_ind_-_realisasi_investasi_q4_2015_dan_jan_-_des_2015

bahan_paparan_tw_iv_2016

Sumber:

http://www.bkpm.go.id

http://www.bkpm.go.id/id/publikasi-investasi/siaran-pers-investasi

Mediasi Sengketa Investasi

March 2, 2017 Leave a comment

Indonesia saat ini sedang menghadapi beberapa gugatan investor asing, yaitu Churchill and Planet Mining dan IMFA. Gugatan yang didaftarkan di ICSID tersebut bernilai masing-masing 1,3 miliar USD dan 581 juta USD. Nilai gugatan sebesar itu sudah biasa dalam gugatan investor terhadap Pemerintah pada forum arbitrase internasional.

Investor asing lazimnya memang memilih forum arbitrase internasional untuk menggugat negara. Pengadilan nasional negara tuan rumah bukan tempat favorit bagi mereka karena masih adanya faktor keraguan terhadap imparsialitas pengadilan dan kompetensi hakim dalam mengadili perkara.

Adapun forum arbitrase internasional yang sering dianggap sebagai solusi juga bukan tanpa masalah. Profesi arbiter diketahui tidak terlepas dari konflik kepentingan. Selain itu, proses arbitrase yang katanya lebih cepat daripada pengadilan juga tidak selalu tepat. Kita ingat dulu kasus Amco memakan waktu kurang lebih 12 tahun dimana ICSID sampai harus mengeluarkan putusan hingga tiga kali.

Yang paling harus dipertimbangkan pada arbitrase internasional adalah faktor biaya. Survey OECD menunjukkan bahwa biaya beracara di arbitrase internasional untuk satu kasus rata-rata mencapai 8 juta USD dan bisa mencapai 30 juta USD pada beberapa kasus (OECD, 2012). Itu baru biaya beracara, belum biaya ganti rugi yang harus dikeluarkan kalau negara diputuskan bersalah.

Sebenarnya hampir semua perjanjian investasi internasional sudah mengatur mekanisme penyelesaian sengketa secara berjenjang. Dimulai dengan penyelesaian melalui musyawarah, jika gagal dilanjutkan dengan penyelesaian melalui negosiasi, konsiliasi, atau mediasi, dan jika masih gagal baru diselesaikan melalui pengadilan atau arbitrase sesuai kesepakatan para pihak.

Dalam praktek yang sering terjadi, penyelesaian melalui mediasi seringkali dijalani dengan cara yang tidak seharusnya, atau bahkan dilewatkan sama sekali karena dianggap hanya membuang waktu. Cara mediasi yang tidak benar tentu hampir pasti akan melahirkan kegagalan. Kegagalan terjadi karena tidak pahamnya para pihak mengenai teknis dan prosedur serta manfaat mediasi. Sedihnya lagi, mediatornya pun juga sama tidak pahamnya dengan para pihak.

Selain itu, kesalahpamahan juga sering terjadi ketika hasil perdamaian melalui melalui mediasi  dianggap kurang memiliki kekuatan hukum. Padahal kesepakatan perdamaian mediasi dapat dikuatkan di Pengadilan sehingga memiliki kekuatan eksekutorial.

Mediasi memiliki disiplin ilmu dan pendekatan tersendiri yang unik. Mediasi menghendaki mediator untuk memiliki keahlian khusus dan mindset yang berbeda dengan penegak hukum. Sehingga tidak heran jika mediator yang belum paham tata cara mediasi yang benar akan bertindak seperti penegak hukum, yang kemudian membuat para pihak merasa membuang-buang waktu dan memutuskan segera ke pengadilan atau arbitrase.

Keahlian dalam mencari dan mendeteksi kesepahaman antara para pihak, merumuskan masalah yang dapat disepakati para pihak, memandu jalannya negosiasi, hingga seni dalam menghadapi kebuntuan negosiasi merupakan keahlian khusus yang dimiliki mediator. Keahlian ini didapat melalui pendidikan khusus sertifikasi mediator. Tentu selain pendidikan khusus, kualitas mediator juga bergantung pada jam terbangnya.

Dalam sengketa investasi internasional, sebenarnya tidak ada negara atau investor yang sampai ingin beracara di pengadilan, apalagi arbitrase internasional. Utamanya adalah karena faktor biaya tinggi, lamanya waktu penyelesaian, dan pada akhirnya nasib mereka ditentukan sang pengadil. Namun sekali lagi karena belum tersosialisasinya mekanisme mediasi dengan baik, para pihak sering menjadi terburu-buru untuk langsung menuju penyelesaian pada pengadilan atau arbitrase.

Jika mediasi dijalankan dengan benar maka akan menguntungkan semua pihak. Negara akan menghemat anggaran dan tenaga, beban perkara di pengadilan akan berkurang, dan investor dapat kembali fokus menjalankan bisnisnya.

Untuk itu, penyelesaian sengketa melalui mediasi harus mulai disosialisasikan dengan cara yang benar. Adapun penyelesaian melalui pengadilan atau arbitrase tetap disediakan sebagai jaminan kepastian hukum bagi investor asing, namun sedemikian rupa diupayakan menjadi solusi terakhir setelah mediasi gagal menemukan kesepakatan.

*Dimuat di Koran Tempo 6 Oktober 2016

https://www.tempo.co/read/kolom/2016/10/06/2400/mediasi-sengketa-investasi

Nama Anak Pilihan

April 10, 2014 Leave a comment

Saya punya beberapa nama anak pilihan, sebagian diantaranya adalah nama yang awalnya untuk anak saya tapi tidak jadi. tidak jadi bukan karena nama tersebut tidak baik, tetapi saya selalu melihat “garis” dan “bentuk wajah” anak saya dalam menentukan nama. Misalnya untuk anak saya yang pertama, dari sejak istri saya hamil saya sudah mantap mempersiapkan nama Zainab untuk anak saya, karena Zainab adalah nama istri, dan anak Rasulullah Saw., namun ketika sudah lahir setelah melihat2 dan memandang wajahnya, saya melihat anak saya lebih “Fathimah” daripada “Zainab”, maka berubahlah nama anak saya menjadi Fathimah Hilwah. Nama anak kedua saya juga demikian, saat istri hamil saya sudah siapkan nama anak saya antara Umar, Hamzah, Khalid, atau Fatih. Namun akhirnya anak saya namanya jadi Qasim, lengkapnya Muhammad Qasim Al-Fatih.

Anak Laki-Laki:

Abdullah Adam

Muhammad Adam

Khalid Mutawakkil

Abdurrahman Musa

Abdullah Isa

Yusuf Karim Attamimi

Ahmad Karim Majid

Anak Perempuan:

Zainab Indana Rahmah

Zainab Rahmah

Fathimah Rahmah

Review Asus X202E / S200

March 6, 2013 Leave a comment

Sebelumnya saya cerita dikit sejarahnya ya. dari sejak 2thn lalu pengen banget beli tablet biar lebih mobile gitu. tapi kok saya dari dulu ga terlalu tertarik sama android-android itu, bagi saya android itu untuk maen2an doang. mungkin anggapan itu tidak benar, tapi hampir setiap orang yang lagi megang tablet yang saya temui itu sedang main game, dengerin MP3, foto2, dan browsing2. maka dari itu saya nyari2 tablet yang berbasis windows. saya coba telusuri saya cuma menemukan acer dan archos doang adanya (masih win7). karena pilihannya ga banyak jadi saya ga ambil dulu, dan ditambah dengan kabar akan munculnya win8 yang touchscreen membuat saya bersabar dulu sampai 2013.

kesabaran membuahkan hasil, sejak awal 2013 banyak bermunculan notebook, tablet, dan tablet+docking berbasih win8. yang pertama saya temui di pasaran ya si acer itu (acer lagi, saya ga tll suka sama merek ini), akhirnya saya tunda lagi sambil nyari2 informasi. sebenarnya yang saya cari adalah dua pilihan, pertama, tablet win8+ docking dengan processor di atas atom dengan harga dibawah 8jt, kedua ultrabook win8 touchscreeh dibawah 14inch dengan harga dibwh 8jt. pilihan yang rada mustahil bukan hahaha. sebenarnya yang saya cari ketemu c (dari segi spek), yaitu samsung ativ dengan intel i5, cm harganya itu 14jt he he he..

setelah mencari2 informasi sana sini dengan sedikit menurunkan standar mimpi, akhirnya ketemulah asus x202e, dengan processor intel i3, RAM 4gb, win8, touchscreen, vga intel hd 4000, 11,6 inch,  harga dibawah 6jt. agak sedikit surprise melihat perbandingan spek dengan harganya,  tapi setelah coba telusuri lagi ternyata memang ga ada satupun merek lain yang ngeluarin dengan spek dan harga segini. karena pilihan cuma 1, maka mantaplah saya Bismillah beli ni barang.

Pagi hari saya lihat di koran kompas ada iklan laptop Asus Vivo Series, ada yang S400 dan S200. Setelah diperhatikan speknya lho kok yang S200 ini sama persis dengan x202e. Siangnya langsung saya ke Mangga Dua untuk eksekusi. Di Mangga Dua ternyata barang ini sulit ditemukan juga, saya nemunya di megacom dan suryacom dan satu lagi lupa namanya  tapi kayaknya barangnya ga ready stock di tokonya. di suryacom harganya 5,75jt tapi hanya ada 1 warna. di megacom harga sama tapi ada dua warna. akhirnya saya ambil yang warna silver

berhubung saya bukan pakar IT jadi langsung aja saya kasih kesimpulan singkatnya ya

kelebihannya:

tentunya harga yang sangat reasonable

sudah touchscreen

windows 8, windows ini cantik tapi perlu waktu untuk adaptasi dan penyesuaian.

bentuk fisik yang tipis, kokoh, dan elegan

ukuran 11,6 tapi kayaknya lebih besar dari 11,6 pada umumnya

processor intel core i3, lumayan

kekurangannya:

fisik agak sedikit berat, tapi ga tll berat kok

layarnya akan sedikit goyang klo disentuhnya agak keras

batre cuma tahan 3,5jam

klo dicek spek di systemrequiremenlab dedicated video ram cuma 32mb, sudah diupdate drivernya tetap juga kyk gt, masak iya sih cuma segitu? ini yang belum terpecahkan. saya sudah tilpun call center katanya patokan mereka di dxdiag bukan di systemrequirementlab. memang sih klo dxdiag approx memorinya sekitar 1600mb. mungkin ada yang bisa bantu jelasin mengenai ini?

nah udah segitu aja review saya ya. ini barang sudah saya pake 2 mingguan, dan cukup mencuri perhatian rekan kerja, banyak yang kagum dan ternyata banyak juga yang lagi ngincar ini barang he he

ok ya, salam asus

Benarkah Orang Zhalim/Ahli Maksiat Bisa Hidup Bahagia?

December 4, 2012 1 comment

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita melihat orang zhalim, jahat, koruptor, penipu, ahli maksiat, yang meninggalkan kewajiban seperti shalat fardhu dan zakat,  atau orang yang tidak beriman hidup dengan bergelimang harta, memiliki tahta, dan berbagai kesenangan lainnya. Benarkah mereka hidup bahagia? sesungguhnya itu adalah kebahagiaan yang semu. perhatikan hadits dan ayat Al-Qur’an dibawah ini

“Jika kamu melihat Allah ‘Azza Wajalla memberikan sebagian kenikmatan dunia kepada seorang hamba sesuai kesukaannya di atas berbagai kemaksiatannya, maka itu hanyalah istidraaj (kenikmatan yang menipu).” (HR. Ahmad)

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’aam: 44)

Dr. A’idh bin Abdullah al-Qarni dalam bukunya “Jangan Berputus Asa” menulis:

Manusia menyangka bahwa jika dia tidak diazab karena dosa yang dilakukannya semasa masih hidup, berarti ia telah selamat darinya. sebagian orang bertanya “Mana sanksi-sanksi dosa yang diperuntukkan Allah bagi siapa yang bermaksiat kepadaNya, sebagaimana yang kamu klaim? Disana ada ribuan manusia yang kafir, musyrik dan ateis. Kami tidak melihat sanksi atau gangguan yang menimpa mereka.” Kita katakan kepada mereka: Tunggu, tunggu! Apakah kamu menyangka bahwa Allah akan menurunkan para pasukan dari langit, burung-burung, atau mengirim halilintar? Sanksi itu adalakanya berasal dari tengah-tengah berbagai urusan yang tidak diketahui oleh manusia. Diantaranya misalnya, kekerasan hati.

“Bahkan sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebagian kecil dari mereka.” (QS. An-Nisa’: 155)

Allah mengunci hati hamba sehingga ia tidak bisa melihat, mendengar, dan menerima nasehat. Allah Swt. berfirman,

“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan. Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikanNya telinga mereka dan dibutakanNya penglihatan mereka.” (QS. Muhammad: 22-23)

Ibnul  Jauzi berkata dalam Shaid al-Khatir, “seorang abid atau seorang alim dari Bani Israil berkata, “Wahai Tuhanku, berapa banyak aku bermaksiat kepadaMu dan berapa banyak Engkau memberi ampunan kepadaku, lalu dimanakah sanksi itu?’ Allah menjawab, ‘Bukankah aku menghalangimu untuk mendapatkan lezatnya bermunajat kepadaKu.’ Yakni, bukankah Aku menghalangimu untuk beribadah, shalat, dan bermunajat kepadaKu, serta Aku menghalangimu mendapatkan manisnya dzikir dan manisnya istighfar. Sebab banyak manusia membaca dan belajar tetapi tidak mendapatkan manisnya iman, karena terputus hubungan antara dia dengan Allah.”

Manusia zhalim atau ahli maksiat, walaupun mereka terlihat bahagia dan ceria, sesungguhnya mereka rapuh mentalnya. Hanya saja rapuhnya mereka tidak selalu terlihat oleh publik, kadang Allah hanya memperlihatkannya kepada orang-orang terdekatnya saja. Tidak jarang kita lihat para artis ahli maksiat yang rumah tangganya hancur lebur oleh perselingkuhan, atau yang terjerat kasus narkoba, ini adalah bukti rapuhnya mental mereka. Sebagian lainnya tidak terlihat kerapuhannya, namun orang-orang terdekatnya seperti suami/istri atau anaknya atau orangtuanya atau teman terdekatnya pasti bisa merasakannya.

Categories: Keislaman