Home > Keislaman > Romantisme Rumah Tangga Rasulullah Saw dan Aisyah

Romantisme Rumah Tangga Rasulullah Saw dan Aisyah

Dari Aisyah berkata, “Aku minum dalam keadaan haidh, kemudian aku memberikan gelas kepada Nabi saw, lalu beliau meletakkan mulutnya di tempat bekas mulutku, maka beliau minum, aku menggigiti daging yang tersisa di tulang saat aku haidh, kemudian aku memberikannya kepada Nabi saw, maka beliau meletakkan mulutnya di tempat mulutku.” Diriwayatkan oleh Muslim.

Rasulullah saw pernah beradu lari dengan Aisyah sebagaimana yang diceritakan sendiri oleh Aisyah, dia berkata, “Aku ikut Rasulullah saw dalam sebagian perjalanannya, saat itu aku masih anak-anak, aku belum gemuk, Nabi saw bersabda, “Majulah kalian.” Maka orang-orang melangkah maju, kemudian beliau bersabda kepadaku, “Kemarilah, aku akan beradu lari denganmu.” Maka aku mengalahkan beliau. Beliau hanya diam, namun ketika aku mulai gemuk dan aku lupa, aku ikut bersama Nabi saw dalam sebagian perjalanannya, maka beliau bersabda, “Majulah kalian.” Maka orang-orang melangkah maju, kemudian beliau bersabda kepadaku, “Kemarilah, aku akan beradu lari denganmu.” Maka aku melayani tantangannya dan kali ini beliau mengalahkanku, maka beliau tertawa dan bersabda, “Ini dengan itu.” Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud secara ringkas, dishahihkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 131.

Dari Aisyah berkata, Rasulullah saw berkata kepadaku, “Sungguh, aku benar-benar tahu jika kamu marah kepadaku dan jika kamu rela kepadaku.” Aisyah bertanya, “Dari mana engkau mengetahui hal ini?” Nabi saw menjawab, “Jika kamu rela kepadaku maka kamu akan mengucapkan, ‘Tidak, demi Tuhan Muhammad.’ Namun jika kamu marah kepadaku maka kamu akan berkata, ‘Tidak, demi Tuhan Ibrahim.’ Aisyah berkata, ‘Benar wahai Rasulullah saw, aku tidak meninggalkan kecuali namamu.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.

Anas bercerita bahwa ketika Nabi saw sedang berada di rumah sebagian istrinya, lalu salah seorang Ummul Mukminin mengirimkan sebuah nampan berisi makanan bersama seorang pelayannya, maka istri di mana Nabi saw sedang berada di rumahnya memukul tangan pelayan yang membawa makanan tersebut, akibatnya nampan tersebut jatuh dan terbelah, maka Nabi saw mengumpulkan kedua belahan nampan dan beliau mengumpulkan makanan di atasnya, beliau bersabda, “Ibu kalian cemburu.” Kemudian Rasulullah saw menahan pelayaan itu sesaat sampai beliau mengambil nampan dari rumah istri di mana beliau berada di rumahnya, beliau menyerahkan nampan yang bagus kepada pelayan untuk diserahkan kepada istri yang nampannya pecah, beliau menahan nampan pecah tersebut di rumah istri yang memecahkannya. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.

Beliau menghibur istrinya yang disakiti dan menasihati yang menyakitinya, mengingatkannya kepada Allah. Dari Anas bin Malik bahwa Shafiyah mendengar bahwa Hafshah berkata untuknya, “Anak wanita Yahudi.” Maka Shafiyah menangis, Nabi saw datang kepadanya sementara dia masih menangis, Nabi saw bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Dia menjawab, “Hafshah berkata kepadaku, ‘Anak wanita Yahudi.’ Maka Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya kamu adalah anak Nabi, pamanku seorang Nabi dan kamu bersuamikan Nabi, dengan apa dia membanggakan dirinya atasmu?” Kemudian Nabi saw bersabda, “Bertakwalah kepada Allah wahai Hafshah.” Diriwayatkan oleh Ahmad, at-Tirmidzi, sanadnya dishahihkan oleh Syu’aib al-Arnauth dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 3055.

Beliau menghibur istrinya yang disakiti dan menasihati yang menyakitinya, mengingatkannya kepada Allah. Dari Anas bin Malik bahwa Shafiyah mendengar bahwa Hafshah berkata untuknya, “Anak wanita Yahudi.” Maka Shafiyah menangis, Nabi saw datang kepadanya sementara dia masih menangis, Nabi saw bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Dia menjawab, “Hafshah berkata kepadaku, ‘Anak wanita Yahudi.’ Maka Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya kamu adalah anak Nabi, pamanku seorang Nabi dan kamu bersuamikan Nabi, dengan apa dia membanggakan dirinya atasmu?” Kemudian Nabi saw bersabda, “Bertakwalah kepada Allah wahai Hafshah.” Diriwayatkan oleh Ahmad, at-Tirmidzi, sanadnya dishahihkan oleh Syu’aib al-Arnauth dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 3055.

Beliau berhasrat kuat dan berminat sangat untuk menghibur dan membahagiakannya, beliau mengizinkan mereka untuk bermain-main dia berkata, “Aku main boneka di depan Nabi saw, aku mempunyai teman-teman yang bermain bersamaku, jika beliau masuk, mereka bersembunyi, lalu beliau meminta mereka untuk keluar dan bermain bersamaku.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.

Dalam sebuah riwayat an-Nasa`i dari Aisyah berkata, “Orang-orang Habasyah masuk masjid, mereka bermain-main, Nabi saw bersabda kepadaku, ‘Wahai Humaira, kamu ingin melihat mereka?’ Aku menjawab, ‘Ya.’ Maka beliau berdiri di pintu, aku datang dari belakang beliau lalu aku meletakkan daguku di pundak beliau dan menyandarkan wajahku ke pipinya.” Hafizh Ibnu Hajar menshahihkannya riwayat ini dalam Fathul Bari 2/444. Wallahu a’lam.

Rasulullah saw bersabda, “Sebaik-baik kamu adalah orang yang terbaik kepada keluarganya dan aku adalah orang terbaik bagi keluarganya.” Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari hadits Aisyah, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 258.

Rasulullah saw sangat menjaga kesetiaan istrinya, Khadijah binti Khuwailid. Aisyah berkata, “Aku tidak cemburu kepada seorang istri Nabi saw seperti aku cemburu kepada Khadijah, aku tidak melihatnya akan tetapi Nabi saw sering menyebut namanya, terkadang beliau menyembelih domba, kemudian beliau memotong-motongnya kemudian mengirimnya kepada kawan-kawan Khadijah, terkadang aku berkata kepadanya, ‘Seolah-olah di dunia ini tidak ada wanita selain Khadijah.’ Maka Nabi saw menjawab, ‘Dia adalah, dia adalah dan aku mempunyai anak darinya.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.

Aisyah berkata, “Halah binti Khuwailid saudara perempuan Khadijah meminta izin untuk menghadap Rasulullah saw, beliau teringat Khadijah, maka beliau tersentak gembira karena itu, beliau bersabda, ‘Ya Allah, Halah.’ Aisyah berkata, “Maka aku cemburu, aku berkata, ‘Mengapa engkau masih mengenang wanita tua Quraisy yang giginya tanggal karena tua dan dia telah wafat beberapa lama padahal saat ini Allah telah memberimu ganti dengan yang lebih baik darinya.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.

Aisyah berkata, “Maka wajah Nabi saw memerah, aku tidak pernah melihatnya demikian kecuali pada saat wahyu turun atau ketika awan yang hendak menurunkan hujan yang bisa rahmat dan bisa pula adzab.” Diriwayatkan oleh Ahmad dalam al-Musnad no. 52171, al-Arnauth berkata, “Sanadnya shahih di atas syarat Muslim.”

Beliau sangat setia kepada istri-istrinya yang lain, manakala Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat pilihan, Yaitu firman Allah Ta’ala, “Wahai Nabi, katakan kepada istri-istrimu, jika kalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasaannya maka kemarilah niscaya aku akan memberikannya kepada kalian dan aku akan menceraikan kalian dengan sebaik-baiknya. Namun jika kalian menginginkan Allah, RasulNya dan kehidupan akhirat maka sesungguhnya Allah telah menyiapkan bagi siapa yang berbuat baik di antara kalian pahala yang besar.” (Al-Ahzab: 28-29).

Beliau mengawali berbicara dengan Aisyah, beliau bersabda kepadanya, “Wahai Aisyah, sesungguhnya aku ini mengatakan sesuatu kepadamu, aku ingin kamu jangan terburu-buru memutuskan sebelum kamu meminta pendapat bapak ibumu.”

Ungkapan kesetiaan beliau kepada istri yang masih berusia muda ini, karena wanita dalam usianya mungkin lalai dari kemaslahatannya yang sempurna, beliau membacakan ayat ini kepadanya, akan tetapi Aisyah yang telah hidup bersama Nabi saw, melihat keagungan akhlak-akhlak beliau dan kebesaran tabiat-tabiatnya tidak akan pernah memilih selain beliau, sekalipun yang selain itu berupa dunia dan seluruh kenikmatannya, maka Aisyah langsung memutuskan dengan tegas dan terbuka tanpa keraguan, “Ya Rasulullah saw, apakah terkait dengan dirimu aku meminta pendapat bapak ibuku? Tidak, karena aku memilih Allah, RasulNya dan kehidupan akhirat.”

Kemudian Aisyah berkata, “Aku mohon kepadamu jangan mengatakan kepada seorang pun dari istri-istrimu tentang apa yang aku katakan.” Maka Nabi saw menjawab, “Tidak ada seorang wanita pun dari mereka yang bertanya kepadaku kecuali aku akan mengatakannya, sesungguhnya Allah tidak mengutusku untuk mempersulit orang lain dan mempersulit diri, akan tetapi dia mengutusku sebagai pendidik yang memudahkan.” Diriwayatkan oleh Muslim.

“Sesungguhnya aku memulai shalat dan aku ingin memanjangkannya lalu aku mendengar tangisan anak maka aku meringankan shalatku karena aku mengetahui kesedihan ibunya karena tangisannya.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Anas.

Dari sini Nabi saw memberikan saat-saat bermain kepada anak-anak, Aisyah berkata, orang-orang Habasyah masuk masjid dan mereka bermain di sana, maka Nabi saw bersabda kepadaku, “Wahai Humaira`, apakah kamu ingin melihat kepada mereka?” Aku menjawab, “Ya.” Lalu Nabi saw berdiri di pintu dan aku mendekat kepada beliau, aku meletakkan daguku di atas pundaknya dan menyandarkan wajahku kepada pipinya. Di antara yang dikatakan oleh orang-orang Habasyah adalah, “Abu al-Qasim orang baik.” Lalu Rasulullah saw bertanya kepadaku, “Sudah cukup?” Aku menjawab, “Ya Rasulullah, jangan tergesa-gesa.” Kemudian beliau berdiri, beliau bertanya kepadaku, “Sudah cukup?” Maka aku menjawab, “Ya Rasulullah, jangan tergesa-gesa.” Aisyah berkata, “Sebenarnya aku tidak mempunyai keinginan untuk melihat kepada mereka, hanya saja aku ingin kaum wanita mengetahui kedudukan beliau bagiku dan kedudukanku di sisi beliau.” Diriwayatkan oleh an-Nasa`i dan sanadnya dishahihkan oleh Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 2/444.

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Sahal bin Saad bahwa Nabi saw datang ke rumah Fatimah putrinya, beliau tidak melihat Ali, beliau bertanya kepada Fatimah, “Di mana putra pamanmu?” Fatimah menjawab, “Antara diriku dengan dirinya terdapat sesuatu, dia marah lalu pergi.” Rasulullah saw bersabda kepada seseorang, “Pergilah, lihatlah di mana dia?” Laki-laki tersebut kembali dan berkata, “Ya Rasulullah, dia di masjid, sedang tidur.” Maka Rasulullah saw datang ke masjid, Ali masih tidur dan pakaiannya terjatuh dari sisinya, maka ia terkena tanah, maka Nabi saw membangunkannya, “Bangun wahai Abu Turab, bangun wahai Abu Turab.” Sahal berkata, “Nabi saw mencandainya dan ngadem-ngademi, dan Ali tidak mempunyai panggilan yang lebih dia sukai dari pada Abu Turab.”

 

Sumber : http://www.alsofwah.or.id

Categories: Keislaman
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: