Home > Dunia Kerja, Opini, Pengalaman, Sharing, Tips dll > Perjalanan karir saya (bersambung)

Perjalanan karir saya (bersambung)

6thn sejak saya lulus kuliah, saya sudah mencoba berbagai macam profesi, mulai dari advokat, wirausaha, hingga PNS. tulisan saya berikut ini bukan untuk bergaya seperti tokoh terkenal, sebab memang tidak ada hal yang spesial dan luar biasa. tulisan ini hanya sekedar sharing semata yang siapa tau ada manfaatnya, InsyaAllah..

Setelah meraih Sarjana dari Fakultas Hukum UII, saya bertekad meraih cita-cita saya untuk menjadi Advokat dan Konsultan Hukum Bisnis. cita-cita saya tidak pernah berubah, yaitu menjadi advokat dan atau dosen. Setelah lulus, saya kembali ke jakarta untuk mengatur strategi pengembangan karir saya.

Setelah melalui berbagai pertimbangan dan diskusi dengan orang tua, saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke jenjang S2 di kelas malam Magister Hukum Jurusan Hukum Ekonomi Universitas Indonesia. Pertimbangan saya adalah cari kerja belum tentu langsung dapat, dan dalam masa penantian itu rugi sekali waktu yang terbuang jika tidak produktif. Pertimbangan orang tua adalah karena saya masih muda dan bapak masih ada rezeki yaudahlah kuliah aja

Mulailah saya apply ke lawfirm2 ternama. kalau ditotal selama 2 tahun itu mungkin ada sampai 100 lamaran sudah saya luncurkan. hasilnya ada sekitar 10% diantaranya saya sukses dipanggil tes. melamar di lawfirm memang agak berbeda, karena mereka jarang membuat iklan lowongan kerja, maka yang berminat harus berinisiatif mengirimkan lamaran terlebih dahulu, nanti jika mereka ada kebutuhan/penerimaan baru nanti para pelamar itu diseleksi administrasi lalu dipanggil.

Salah satu tantangan sekaligus hambatan bagi saya untuk masuk lawfirm ternama adalah, saya akui memang CV saya tidak terlalu istimewa. saya harus bersaing dengan alumni UI, UGM, UNPAD, UNPAR, UPH, TRISAKTI, dan universitas ternama lainnya. secara teknis sebenarnya saya bisa bersaing dengan mereka, yang menjadi masalah adalah pada seleksi administrasi, lawfirm tsb mulai menyaring dengan hanya memanggil kandidat dari universitas negeri ternama dan swasta yang berlokasi di jakarta dan bandung, maka tersisihlah saya. padahal jika saya diberi kesempatan, saya bisa bersaing dengan mereka, terbukti di beberapa lawfirm saya berhasil lolos dan mengalahkan mereka.

ada beberapa lawfirm mapan yang berhasil saya tembus, yaitu Nindyo Pramono Lawfirm, General Patent International Law Office, Farida Law Office, dan lainnya. di lawfirm-lawfirm tsb saya ga pernah tahan lama, cuma 1-2 hari aja he he he. knp bisa begitu? wah panjang sekali ceritanya he he

tapi yang paling berkesan bagi saya adalah ketika bekerja di Lembaga advokasi dan Bantuan Hukum AAI yang saat itu dipimpin oleh Bang Johnson Panjaitan. walaupun kantornya kecil dan kasus-kasusnya banyak kasus pidana dan rakyat kecil, tapi MasyaAllah saya bahagia sekali. karena satu hal dan lainnya, saya resign lagi dari kantor ini, menjelang masa akhir studi saya di UI. setelah resign dari kantor ini saya sempat bekerja di Umar Tuasikal Law Office selama beberapa bulan hingga saya lulus Magister Hukum

setelah lulus, saya mencoba intropeksi mendalam. saya cukup frustasi karena sepertinya cita-cita saya menjadi pengacara selalu menghadapi ujian dan hambatan yang berat dan besar. setelah saya diskusi dengan orang tua, orang tua saya menyarankan saya melamar ke kantor swasta. sementara saya memutuskan untuk banting stir ke dunia bisnis. sebetulnya keluarga besar saya semuanya pedagang, hanya saya yang karyawan, dan hanya saya yang berpendidikan S2 dan punya lisensi advokat. orang tua saya berharap ada salah satu anaknya yang bekerja kantoran, jangan semua jadi saudagar.

(Bersambung)…..

  1. December 6, 2012 at 2:21 pm

    mana sambungannya bang…

  2. ira
    January 8, 2013 at 3:41 pm

    Salam kenal.. senang membaca postingan anda. Saya jadi bersemangat lagi untuk tetap berupaya mendapatkan kesuksesan dan kemakmuran dari wirausaha yang saya jalankan sejak saya resign 6 bulanan yl. Semalam mendapat inspirasi yang bagus dari http://blog.fathihadi.net/menghargai-proses/ dan cukup terinspirasi dari kesimpulan yang ia ambil dari perjalanan karir mandirinya yakni :
    Hingga saat ini yang saya tulis adalah sebuah proses bukan sebuah kesuksesan dari proses itu, tapi kita semua patut menghargai proses tanpa mengeluh dan tetap menjunjung tinggi semangat dan kejujuran. Berhentilah mendengarkan motivator, anda mampu menjadi motivator diri anda sendiri.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: